Abira Massi Veritas odit moras.

Bedah Buku: Pemikiran Politik Barat

11 min read

Pemikiran Politik Barat

Halooo, udah lama gue ga aktif nulis di blog ini. Sibuk banget, kuliah di dua kampus dan ikut kegiatan non-akademis lainnya. Sesuai dengan judul, gue bukan mau resensi buku, tapi lebih ke bedah buku. Judul bukunya Pemikiran Politik Barat yang ditulis oleh alm. Ahmad Suhelmi, salah satu Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Oh iya, anyway alesan bedah buku kali ini karena keperluan kuliah aja sih, sebentar lagi gue UTS. Sebenernya ngeluarin effort gede untuk ngelakuin ini bukan cuma sebatas ngerjain tiga butir soal UTS minggu depan, tapi karena gue suka banget dan tertarik sama kajian sejarah perkembangan pemikiran politik dari filsuf-filsuf terkenal dari zaman Yunani-Romawi kuno sampai kontemporer.

Untuk yang suka filsafat dan sejarah politik, kalian harus banget baca buku ini. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat baik dan mudah dipahami oleh awam seperti gue ini walau literatur rujukan yang dipakai bener-bener buku-buku ‘kelas berat’ untuk dibaca.

Kalo kata pakar politik Eep Saefullah Fatah, “Buku ini tidak saja mematahkan mitos bahwa uraian filsafat itu selalu rumit dan membuat kening berkerut, tetapi juga potensial menggairahkan minat mahasiswa—yang lama hilang—pada filsafat”.

By the way, gue udah baca buku ini lebih dari sekali, dan ada beberapa bab juga yang gue baca berkali-kali (karena gue gabut kali ya). Gue juga mau disclaimer kalo bedah buku ini cuma point-point penting yang gue pengen pahamin, jadi kalo kalian ga nyambung, mending langsung baca bukunya aja deh.

Negara Kota: Pemikiran Plato dan Aristoteles

Negara Kota tidak ada pembedaan antara masyarakat dengan negara, negara adalah masyarakat, dan sebaliknya. Kejayaan Athena pada masa Pericles dengan sistem pemerintahan Athenian democatia, (1) Pemerintah oleh rakyat secara langsung; (2) kesamaan di depan hukum; (3) penghargaan semua bakat atau pluralisme; (4) penghargaan terhadap pemisahan wilayah pribadi.

Negara masa Pericles bersifat paguyuban (paternalistis personal), perang Peloponesia (431-404 SM) mengakhiri kejayaan Athena yang saat itu melawan Sparta. Setelah perang, muncul kaum Sofis yang mempersoalkan berbagai masalah fundamental sampai teknis-instrumental. Tidak ada yang baik dan buruk menurut Sofis, tahun 469 lahir Socrates yang menjadi filsuf yang menciptakan metode pencarian fakta kebenaran yang bernama skeptisisme. Socrates mempertanyakan dan menghadapi tantangan kaum Sofis di negaranya. Socrates menolak pemikiran Sofis (baik-buruk), karena dengan kebajikan (virtue) manusia memiliki pengetahuan dan tolok ukur yang baik dan buruk (menggunakan akal-rasional). Karena dianggap pemikiran sesat, Socrates dibunuh oleh pemerintahan Sofis dengan meminum racun dan tidak ada yang membela di pengadilan.

Plato

Plato
Sumber: Rawanda.blog

Seorang pemikir idealis-utopianis, murid dari Socrates. Negara ideal meneguhkan prinsip kebajikan. Kebajikan adalah pengetahuan. Negarawan adalah raja-filsuf seperti dokter yang dapat mendeteksi penyakit sejak dini. Plato melarang kepemilikan barang atas nama pribadi (nihilisme sosial). Hal tersebut dikarenakan akan menimbukan kecemburuan dan kesenjangan sosial. Individualisme Plato digencarkan karena membuat kehancuran Athena pada masa Sofis. Pemikiran Plato terjadi akibat sosio-historis yang diterima olehnya pada masa kehancuran Athena. Kehancuran Athena tidak hanya dari luar, namun internal seperti adanya demokrasi yang melemahkan pemerintahan. Menurutnya, pemerintahan demokrasi akan melahirkan tirani, dan bentuk negara terbaik adalah negara aristokrasi yang penuh kebajikan di dalamnya.

Aristoteles

Aristoteles
Sumber: Kompas.com

Seorang pemikir empiris-rasionalis. Pemikirannya memberontak dari pemikiran gurunya, Plato. Menurutnya manusia adalah Zoon Politicon (Hewan Politik) dan menganalogikan negara sebagai organisme tubuh. Menurutnya suatu negara tidak boleh terlalu luas dan kecil karena sulit untuk mempertahankan diri dan mudah dikuasai yang lain dan sulit menjaganya bila terlalu besar. Tujuan negara menurut Aristoteles adalah eudai-monia, yaitu kebahagiaan. Negara yang baik adalah yang sanggup dan berhasil mencapai tujuan-tujuan negara, sebaliknya, negara yang buruk adalah negara yang gagal dalam mencapai tujuan-tujuannya.

Monarki menurutnya bentuk pemerintahan terbaik dan ideal. Namun sukar dipraktekan dalam dunia empiris. Oleh karena itu aristrokasi jauh lebih realistis terwujud dalam kenyataannya. Aristoteles membenarkan adanya hak milik individu. Karena dengan mempertahankan kekayaan sendiri menimbulkan gagasan sistem keamanan negara.

Pemikiran Politik Kristiani

Pada zaman Yesus, struktur sosial sangat bervariasi di wilayahnya. Saduki sebagai kelas sosial atas dan minoritas, Parisi menengah yang bersahabat dan sebagian memiliki watak revolusioner. Am-Haaretz kelas terbawah yang berisi petani dan ploretariat lainnya yang tertindas. Yesus memperoleh dukungan penuh dari kaum tertindas tersebut dalam awal kariernya menyebarkan agama Tuhan.

Yesus hidup di kota yang memiliki gerakan pemberontakan karena penindasan politik Romawi terhadap orang Yahudi. Setelah raja Herodes wafat, Yerusalem terjadi konflik sosial, Archelaus—tokoh gerakan yang menuntut pembebasan orang Yahudi yang dipenjara dan menuntut hak lainnya. Ribuan aksi protes dibantai Romawi dengan kejam. Rakyat merindukan sosok juru selamat (messiah). Yohannes Pembaptis (anak Nabi Zakaria) mengabarkan adanya utusan Tuhan yang bakal lahir dalam waktu dekat (hadirnya Kerajaan Tuhan). Romawi yang khawatir akhirnya membunuhnya. Yesus—anak baptis Yohanes—melanjutkan aksinya—yang memiliki kemiripan mesianisme pada zaman Musa. Durant, sejarawan peradaban, mengatakan Yesus memiliki visi politik Kerajaan Tuhan seperti lanjutan dari Yohanes di perjanjian baru. Kematian Yesus disalib karena melakukan makar politik terhadap kerajaan Romawi.

Ajaran Yesus tentang ekualisasi, egaliter, dan Kerajaan Tuhan di mana tidak ada yang hidup bermegah-megahan dan tidak ada yang miskin. Sejarawan beranggapan bahwa doktrin Yesus merupakan Komunisme Utopia. Setelah itu visi politik Yesus diwarisi pengikutnya.

Kristologi Paulus

Paulus
Sumber: jpicofmindonesia.org

Yahudi pengikut Yesus setelah kematiannya tidak dikategorikan menjadi Yahudi lagi, namun Kristen oleh Paulus. Kristen mengalami helenisasi dan universalisasi yang diterima oleh semua bangsa, tidak hanya Yahudi.

Agama Kristen menjadi agama bangsawan dan kelas penguasa, kekuasaan imperium Roma mulai memeluk agama ini. Agama kesetaraan ini menjadi hierarkis dan birokratis. Abad-abad selanjutnya, ajaran Paulus dan Yesus dikembangkan oleh Bapa Gereja. Bapa Gereja mengajarkan manusia untuk patuh kepada peraturan negara karena peraturan tersebut berasal dari Tuhan. Dengan begitu, posisi negara di bawah gereja. Di antaranya Bapa Gereja abad pertengahan, St. Augustinus dan Thomas Aquinas merupakan tokoh pemikir terbesar jasanya dalam perkembangan Kristiani.

Santo Augustinus

Santo Augustinus
Sumber: Wikipedia

Bapa Gereja mempunyai peran strategis yang merumuskan hubungan Kristen dengan negara (agama menjadi politis). Augustinus lahir di Tunisia, Afrika Selatan. Augustinus hidup bergelimang dosa, ia meninggalkan agama Manikeisme dan pergi ke Milan untuk menjadi guru dan selalu mencari kebenaran hakiki. Idealisme Plato sangat mempengaruhi Augustinus. Augustinus mendapatkan ‘hidayah’ untuk masuk ke Katolik karena dia mendengar suara berupa “ambil dan bacalah”, kemudian ia pulang dan mengambil Alkitab dan membaca surat Paulus. Kemudian ia menjadi bishop di Hippo untuk menyebarkan ajaran agama.

Pemikiran Augustinus

Augustinus mengatakan kejatuhan Romawi tidak ada sangkut pautnya dengan Kristen yang menjadi agama negara. Kehancuran sudah seharusnya terjadi seperti proses hukum organismik. Gagasan organismik ini hasil terpengaruhnya ajaran Aristoteles. Kejatuhan Roma memiliki cikal bakal jauh sebelum itu, yaitu nabi Adam yang jatuh dari surga, sehingga anak cucunya mewarisi kejatuhan tersebut.

Penjelasan kejatuhan imperium Romawi oleh Augustinus didasarkan pada teologis, bukan empiris. Teks Alkitab selalu menjadi rujukannya saat menjelaskan sesuatu.

Negara menurut Augustinus ibarat tubuh dan jiwa. Pada hakikatnya tubuh bersifat temporal dan jiwa kekal. Negara dibagi menjadi dua, Negara Tuhan; yang didasari cinta kasih Tuhan dan Negara Iblis; negara duniawi. Augustinus melihat negara seperti Plato, yaitu demi kebaikan bersama dengan berlandaskan agama Kristen. Intinya, Augustinus mengkristenisasi ajaran Plato.

Thomas Aquinas

Thomas Aquinas
Sumber: Tribunnewswiki.com

Terjadinya gelombang Aristotelianisme di Eropa yang ditransmisikan oleh intelektual keagamaan bernama Thomas Aquinas. Pergulatan ajaran Plato dan Aristoteles dimenangi oleh Aristoteles saat itu sehingga kecenderungan metodologi bersifat realistis, empiris, dan rasional.

Kristen mengalami penyesuaian diri dan menerima dialog intelektual-teologis. Thomas dilahirkan di Naples di keluarga Aristrokasi Italia yang mempunyai hubungan kerajaan dengan kaisar Eropa.

Pemikiran Thomas Aquinas

Pemahaman mengenai Natural Law—Hukum Alam. Dalam hukum alam menjelaskan mengenai partisipasi makhluk rasional dalam hukum abadi. Hukum abadi adalah kebijaksanaan dan akal budi dari Tuhan. Merupakan sumber dari segala hukum.

Ia berpendapat eksistensi manusia bersumber dari sifat alamiah manusia, yang salah satu sifatnya politis dan sosial. Thomas memodifikasi teori hewan politik Aristoteles sehingga cocok dengan doktrin Kristiani.

Menurutnya, negara dunia merupakan subjek dari kekuasaan Tuhan. Manifestasi kekuasaan Tuhan di dunia ini adalah pemuka agama, santo, dan paus.

Thomas mendefinisikan manusia menjadi tiga kategori. (1) Manusia ingin selalu bahagia; (2) Manusia memiliki kecenderungan seperti hewan—kejam, tamak, rakus; (3) Manusia memiliki watak cinta, kebenaran, dan kebaikan (Man the substance, the animal, and the moral agent).

Menurut Thomas, monarki merupakan bentuk negara terbaik yang dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles. Penguasa tunggal sejauh berdasarkan nilai moralitas dan hukum kodrat akan menciptakan tujuan dan cita-cita negara. Menurutnya tirani merupakan bentuk negara terburuk.

Peradaban Renaisans dan Pemikiran Machiavelli

Niccolo Machiavelli
Sumber: Faktatokoh.com

Zaman Renaisans (lahir kembali) adalah penjembatan antara zaman kegelapan (dark age) dan zaman pencerahan (elightment age). Renaisans sebagai starting point perkembangan peradaban Eropa. Perang Salib dan perkembangan kapitalisme dan merkantilisme merupakan variabel penting dalam munculnya zaman ini. Zaman ini lahir karena pertikaian agama Kristen dengan ilmu pengetahuan.

Renaisans bukan gerakan popular, karena hanya para sarjana dan artis yang didukung patron liberal, khususnya keluarga Medici dan para humanis.

Mengkaji ajaran Yunani kuno membangkitkan filsafat abad Renaisans. Manusia dijadikan sebagai objek penghormatan menggantikan posisi Tuhan dan menjadikannya makhluk kreatif. Adanya kebebasan beragama dan intelektual pada era ini dan tidak takut akan perbedaan pandangan. Intinya, zaman ini menjadikan teosentris menjadi antroposentris.

Tuhan setelah menciptakan alam semesta berhenti aktif, dan tidak mengintervensi manusia. Alam semesta bekerja sendirinya secara otomatis menurut hukum-hukumnya sendiri” – Voltaire.

Pemikiran Machiavelli

Dibesarkan di Florence, Italia yang dikuasai dinasti Medici. Ia menyaksikan perjuangan seorang politikus bernama Savonarola yang membela kaum miskin dan dihukum karena dituduh sesat dan mengkritik kehidupan mewah penguasa oleh dinasti Medici. Hal tersebut mempengaruhi Machiavelli mengenai pentingnya persenjataan dan kekuatan militer. Ia diberhentikan dari jabatannya dan dalam hatinya masih memiliki keinginan untuk berkecimpung di bidang politik kenegaraan.

Machiavelli menulis beberapa buku, salah dua yang monumental adalah The Prince dan The Discourses. Tuduhan diberikan kepada Machiavelli karena dianggap ‘menjilat’ dinasti Medici dengan membuat buku untuk menarik perhatian Lorenze de Medici agar direkrut kembali menjadi pejabat pemerintahan.

Machiavelli menolak tegas pernyataan Aquinas mengenai pemimpin harus menghindari memupuk kekayaan duniawi—pemimpin harus kaya untuk jaya pada masa pemerintahannya.

Cara Machiavelli untuk mempertahankan negara yaitu dengan: (1) membunuh semua keluarga penguasa lama dan tidak boleh tersisa, karena hanya menimbulkan dendam dan beresiko di masa depan; (2) Melakukan kolonisasi; (3) Memiliki tentara sendiri.

Penguasa boleh menggunakan cara hewan—keji—khianat, asal tidak dibenci oleh rakyatnya. Harus pandai menggunakan cara-cara manusia dan binatang di waktu tertentu (adaptif). Ia mengambil contoh rubah dan serigala sebagai analogi tersebut.

Machiavelli melihat agama dari sudut pandang pragmatisme dan kepentingan politik kekuasaan (nilai utilitariansime).

Reformasi Protestan

Gerakan ini meletakkan dasar filosofis keagamaan perkembangan kapitalisme dan merupakan lanjutan perjuangan Renaisans Italia. Reformasi terinspirasi dari wawasan intelektual peradaban Yunani Kuno. Pemicu reformasi ini karena terjadinya penyimpangan oleh Paus saat itu, mulai dari mempunyai istri simpanan, anak haram, dan menjual surat penghapus dosa (indulgencies). Penolakan Paus—gereja kebanyakan dituntut oleh para bangsawan—penguasa saat itu karena pajak yang harus dibayarkan kepada gereja menimbulkan ketimpangan sosial ekonomi. Pajak tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi Paus.

Reformasi Jerman di bawah Martin Luther

Martin Luther
Sumber: okezone.com

Katolisisme paling kuat berpengaruh dan penjualan surat pengampunan paling banyak berada di negara ini. Martin Luther mempelopori adanya keharusan untuk pembaruan keagamaan. Martin memprotes surat pengampunan dosa kepada gereja, tidak boleh dipaksakan dan harus didasarkan kesukarelaan. Gereja tidak memiliki hak untuk mengampuni dosa. Inilah yang menjadi doktrin justification by faith-nya Luther. Apabila manusia ingin selamat, maka ia harus melakukan perbuatan baik yang dianjurkan Tuhan dan bertobat langsung tanpa perantara pastor. Selain itu Luther menolak tradisi Katolik di mana pembaca Alkitab hanya diperbolehkan untuk pastor. Menurutnya siapa pun boleh membaca Alkitab agar tidak terjadinya monopoli kebenaran yang dilakukan oleh pemuka agama.

Karena gagasannya, Luther mendapat dukungan politis dari para bangsawan. Dukungan politis tersebut memiliki arti penting bagi perjuangan Luther. Luther menuntut adanya sekuleritas dalam kepemerintahan. Tuntutan tersebut berhasil, gereja ditempatkan di bawah kekuasaan negara.

Pemikiran John Calvin (Calvinisme)

Yohanes Calvin
Sumber: Biography.com

Pemikiran Calvin lebih radikal dibandingkan Luther. Menurutnya, Luther konservatif. Calvin lahir di Perancis pada 1509 dan mendalami kajian hukum di Universitas Paris yang dipengaruhi banyak pengikut Luther.

Menurut Luther, manusia adalah wayangnya Tuhan, dan takdir sudah ditentukan oleh-Nya. Manusia bisa hidup suci tanpa harus menjadi biarawan atau biarawati. Asketisme Protestan yang diajarkan Calvin serupa dengan yang diajarkan Lutheranisme.

Dampak Reformasi Protestan di Barat

Reformasi bertanggung jawab terhadap intoleransi dan perang saudara di Barat yang berlangsung secara intens selama berabad-abad. Pertikaian antara Protestan dan Katolik yang menimbulkan perang saudara yang hampir menghancurkan Perancis ini dilakukan atas nama Tuhan dan agama. Tercatat delapan kali perang saudara sejak 1562-1593. Reformasi ini menyulut terjadinya pembantaian massal dalam peristiwa berdarah St. Bartholomeus. Catherine de Medici menyembelih dua ribu Protestan hanya dalam waktu semalam. Pemimpinnya, Colign dipenggal dan kepalanya dikirim ke Paus. Pangeran Phillip dari Spanyol tertawa terbahak-bahak mendengar kabar tersebut. Reformasi ini mengakibatkan terpecahnya sekte Kristen seperti Lutherisme, Calvinisme, dll. Sehingga menyebabkan perbedaan agama di setiap wilayah, contohnya negara Skandinavia menganut Lutherisme, Swiss, Belanda, Perancis menganut Calvinisme, dan Eropa seperti Spanyol dan Italia menganut Katolisisme.

Thomas Hobbes: Negara Kekuasaan sebagai Leviathan

Thomas Hobbes
Sumber: Wikipedia

Hobbes mengibaratkan negara sebagai Leviathan, monster raksasa yang ganas yang terdapat di Perjanjian Lama Alkitab (Old Testament). Negara menimbulkan rasa takut kepada siapa pun yang melanggar hukum. Negara Leviathan harus kuat, bila lemah, akan menimbulkan anarkhi. Menurutnya seperti itulah bentuk negara terbaik.

Leviathan
Sumber: Grunge.com

Konteks Sosio-Historis Hobbes

Sejak awal kehidupannya, perang agama dan perang sipil selalu terjadi secara terus menerus. Ia melukiskan dirinya sebagai saudara kembar ketakutan, “Fear and I, were born together”. Hobbes mempelajari ajaran Aristoteles yang kemudian ia kritik. Ia berkenalan dengan banyak tokoh pemikir abad XVII seperti Rene Descartes, Galilleo Galillei, Bacon, dll. Tokoh-tokoh tersebut mempengaruhi Hobbes dalam pemikirannya. Hobbes terobsesi dengan pemecahan masalah untuk menghindari konflik perang yang ada saat itu dan menciptakan perdamaian yang hakiki. Menurutnya, lemahnya kekuasaan negara menyebabkan mudahnya pecah perang agama dan perang sipil. Dalam pengamatannya, Hobbes menarik kesimpulan, prinsip moralitas dan agama tidak bisa untuk menata masyarakat.

Cara terbaik melihat manusia adalah sebagai ‘alat mekanis’ dan memahaminya dari pandangan matematis-geometris. Penggunaan nalar, ilmu pengetahuan, rasional, digunakan untuk memahami manusia.

Hobbes berpendapat bahwa manusia secara alamiah akan memerangi manusia lainnya atau manusia akan menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).

State of Nature dan Terbentuknya Negara

Dalam keadaan alamiah, belum terbentuk adanya keadaan sosial politik maupun kekuasaan. Manusia bebas melakukan apa saja sesuai nalurinya. Namun manusia bukanlah hewan politik (Zoon Politicon) seperti yang diungkapkan Aristoteles. Watak manusia ingin berperang dengan manusia lainnya dan memaksa akal manusia untuk mengadakan perjanjian untuk membentuk suatu negara. Atas dasar itulah manusia membutuhkan kekuasaan bersama untuk menghindari pertumpahan darah. Terbentuknya negara merupakan sebuah kontrak sosial, manusia secara sukarela menyerahkan hak-hak dan kebebasannya kepada seorang penguasa atau dewan.

Negara berdiri sendiri, bebas, dan manusia wajib mengikuti hukum negara. Negara membentuk nilai moralitas. Negara versi Hobbes memiliki kekuasaan mutlak. Negara kekuasaan harus memiliki sifat seperti Leviathan, kuat—bengis—kejam—ditakuti.

John Locke: Civil Society dan Kekuasaan Politik

John Locke
Sumber: Kompasiana.com

Locke mengilhami pemikiran liberalis-borjuasi di Perancis dan revolusi Amerika. Locke dididik oleh kaum Royalis, musuh Puritan. Raja Charles dieksekusi Puritan membangkitkan simpati anak muda seperti Locke. Ia berhenti mengajar filsafat Aristoteles dan mulai mempelajari filsafat Descartes mengenai metode Cartesian-nya. Diskusi dengan temannya membuat ia dituduh melakukan pemberontakan penumbangan kekuasaan raja Inggris dan penghujatan agama. Tuduhan tersebut membuatnya harus mengungsi ke negeri Belanda.

Locke penentang Monarki absolut di negaranya (Inggris), dianggap bertentangan dengan prinsip masyarakat madani (civil society). Permusuhan intelektual pun terjadi antara Locke dan Filmer (pembela gigih Monarki absolut).

State of Nature dan Terbentuknya Negara

Asal muasal pemerintahan adalah suatu keadaan alamiah. Terdapat hukum alam yang berisi hukum Tuhan. Hukum alam bersifat hipotesis. Gagasan ini mirip dengan gagasan Hobbes, namun Locke menyatakan dalam perspektif teologis. Keadaan alamiah yang dimaksud adalah kebahagiaan, kebebasan, kesetaraan, dan tidak ada rasa takut. Manusia pada dasarnya adalah baik dan terobsesi untuk berdamai.

Supreme Power (Kekuasaan Negara)

Menurut Locke, harta kekayaan merupakan ekspresi kepribadian unik dan orang kaya memiliki konotasi kecerdasan, ketekunan, kerajinan, dan kegigihan. Semakin kaya—terakumulasi kepemilikan, maka semakin khawatir terhadap ancaman untuk menjaga kekayaannya.

Manusia membutuhkan proteksi diri atas kekayaan, hal tersebut yang membuat manusia membutuhkan perjanjian sosial (kontrak sosial) yang rela memberi sebagian hak alamiahnya kepada suatu lembaga bernama negara. Locke mendesakralisasi politik dan menjadikan negara bersifat sekuler. Secara garis besar Hobbes dan Locke memiliki kesamaan, perbedaannya yaitu antar kekuasaan negara menurut Hobbes, bila rakyat melalui perjanjian sosial telah sepakat memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada negara (mutlak). Sebaliknya, menurut Locke, negara terbentuk dari rakyat, maka kekuasaan tidak bebas, berhadapan dengan aspirasi rakyat (lebih rasional).

Locke meyakini manusia memiliki hak yang tidak bisa diganggu gugat oleh negara (HAM). Locke kemudian membagi kekuasaan negara untuk menghindari sentralisasi kekuasaan di satu lembaga. Terdiri dari eksekutif, legislatif, dan federatif (pls ga perlu gue jelasin lagi pengertian satu per satu). Toleransi agama juga dengan gagasan Locke. Rakyat bebas memilih agama dan negara tidak berhak ikut campur dalam setiap individu masyarakat. Gereja juga tidak boleh melakukan kekerasan untuk memaksa orang patuh.

Montesquieu dan Pemikirannya

Montesquieu
Sumber: Wikipedia.org

Montesquieu dilahirkan di Perancis. Pemikir ini mengagumi karya Aristoteles, Machiavelli, dsb. Karya monumentalnya adalah Surat-Surat Persia dan Semangat Hukum. Pemikiran Montesquieu seperti Machiavelli yang memegang nilai utilitarianisme dalam agama. Ia sempat membuat karya tentang sejarah kebesaran dan kejatuhan Romawi. Menurutnya agama tidak membawa kebajikan moral kepada rakyat imperium. Montesquieu percaya bahwa konstitusi dapat menyelamatkan suatu negara apa pun bentuk negara tersebut. Perluasan wilayah yang dilakukan imperium Roma memicu kejatuhannya sendiri. Akibatnya, terjadi gerakan separatism dari imperium.

Ia membuat karya yang berjudul Surat-Surat Persia, berisi satiran yang menyindir rakyat, penguasa, dan pemuka agama di negerinya, khususnya agama Islam dan Kristen.

Karyanya yang berjudul Semangat Hukum merupakan masterpiece-nya. Gagasannya dielaborasi pada buku ini. Karyanya menjadi monumental dan menjadi referensi kenegaraan tidak hanya di Eropa dan AS, bahkan Indonesia. Isinya berkaitan dengan hukum, pemerintahan, pengaturan militer, pajak, dan sebagainya. Menurutnya letak geografis mempengaruhi perilaku sosial. Contohnya mereka yang tinggal di lingkungan tropis lebih malas, pemalu, dan sensitif daripada individu yang tinggal di daerah dingin, yang cenderung rajin, berani, dan kerja keras.

Sumbangan pemikiran politik yang terkenal adalah Trias Politika. Pembagian kekuasaan negara menjadi tiga bentuk; legislatif; eksekutif; yudikatif. Hal ini agar tidak terbentuknya kekuasaan mutlak yang sewenang-wenang.

Menurutnya Negara Republik merupakan bentuk negara terbaik, negara yang diperintah rakyat banyak dan memberikan mandat serta legitimasi kepada orang yang dipercaya untuk memerintah negara. Negara monarki absolut yang digagas oleh Hobbes dianggap memiliki ciri-ciri negara despotis oleh Montesquieu, dan bentuk negara terburuk.

Jean Jacques Rosseau: State of Nature dan Kontrak Sosial

Jean Jacques Rosseau
Sumber: Kompasiana.com

J. J. Rosseau lahir di Perancis, tokoh yang melahirkan gagasan individualisme ekstrem. Abad pencerahan yang membuat manusia berpikir secara empiris dan seperti mesin dikritik oleh Rosseau. Apa yang dianggap baik oleh Renaisans, buruk di matanya, menjadikan manusia menjadi makhluk yang tamak dan kehancuran manusia karena adanya perang dibantu mesin. Pemikiran hak kepemilikan John Locke dianggap menimbulkan ketimpangan sosial oleh Rosseau.

State of Nature

Konsep keadaan alamiah bukan historis, melainkan hanya hipotesis. Manusia dianggap memiliki kecintaan diri sendiri yang membuatnya selalu menjaga keselamatan dirinya, dasarnya baik. Jika ada konflik, manusia cenderung menghindari perang. Dalam keadaan alamiah, manusia memiliki kebebasan mutlak, namun terampas dari dirinya saat ada pembatasan yang melibatkan lembaga-lembaga ekonomi dan politik.

Menurutnya, negara merupakan hasil dari perjanjian atau kontrak sosial. Individu sepakat untuk memberikan kebebasannya kepada kekuasaan bersama. Kekuasaan bersama ini dinamakan negara. Dalam kontrak sosial, Rosseau mendambakan bentuk negara demokrasi langsung seperti negara kota pada masa Yunani kuno.

 

Abira Massi Veritas odit moras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *