Abira Massi Veritas odit moras.

Resensi Buku: Man’s Search For Meaning

2 min read

Man's Search For Meaning

Gw baca buku ini beberapa bulan lalu, tapi kadang suka keinget sama isinya karena memang “membekas” di kepala gw kalo lagi mikirin esensi hidup. Buku karya Viktor E. Frankl ini menjadi salah satu buku best seller di dunia yang diterbitkan 190 edisi dalam 49 bahasa. Anyway, bahasanya ga terlalu “ndakik-ndakik”, mungkin bakal gw rekomendasiin ke lo yang sering mikirin makna dari sebuah kehidupan.

Viktor E. Frankl sendiri adalah seorang tahanan Nazi yang pernah ngalamin tragedi holocaust. Dia mengamati bahwa mereka yang berhasil bertahan dan bebas, mayoritas memiliki alasan untuk terus hidup, dan hidup percaya akan masa depan. Sedangkan yang sudah menyerah, stres, ataupun mendapatkan harapan palsu adalah yang lebih cepat mati, baik dari penyakit maupun bunuh diri.

Di bab pertama yang memakan 60% isi buku tersebut Frankl menceritakan pengalamannya selama 3 tahun di kamp konsentrasi Nazi. Frankl adalah seorang Psikiater keturunan yahudi yang bermukim di Wina, Austria. Sebelum diseret ke kamp konsentrasi, ia sebenarnya mendapat undangan dari Konsulat AS untuk mendapatkan visa imigrasi. Apalagi saat itu ia sedang mengembangkan gagasannya yang ia sebut sebagai Logoterapi. Namun ia justru ragu dan tak tega untuk meninggalkan kedua orang tuanya yang ia yakin cepat atau lambat akan ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi. Maka ia pun memilih untuk tetap tinggal.

Ia pun akhirnya menghabiskan 3 tahun berikutnya di 3 kamp konsentrasi yang berbeda. Sebagai tawanan, ia tiba-tiba dipaksa untuk menilai apakah kehidupannya sendiri masih memiliki makna di tengah keadaan kamp konsentrasi yang sarat akan penderitaan.

Jika hidup benar-benar memiliki makna, maka harus ada makna di dalam penderitaan. Karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Meskipun penderitaan itu merupakan nasib dan dalam bentuk kematian. Tanpa penderitaan dan kematian, hidup manusia tidaklah sempurna.

Viktor E. Frankl

Ia pun menemukan fakta bahwa pada dasarnya setiap manusia bisa menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya, terlepas dari bagaimanapun kondisinya saat itu. Kerasnya kehidupan di kamp konsentrasi dan dalamnya penderitaan yang mereka alami di sana membuat banyak dari para tawanan mengalami guncangan mental.

Hidup di kamp konsentrasi sangatlah menderita. Mereka hidup dengan bayang-bayang dikirim ke kamar gas untuk kemudian dimusnahkan begitu saja. Untuk tetap hidup pun, setiap hari mereka harus bekerja tanpa upah dan hanya diberi makan yang sangat tidak layak (semangkuk sup yang lebih banyak airnya dan secuil roti). Ga heran, setelah beberapa waktu ga sedikit tawanan yang akhirnya menyerah dan memilih untuk bunuh diri.

Manusia punya kedua potensi untuk berperilaku seperti babi atau seperti nabi; potensi mana yang akan diwujudkan, tergantung dari keputusannya, bukan dari kondisi.

Victor Frankl

Menurut Frank, sebagai manusia kita tidak perlu berharap sesuatu dari hidup. Sebaliknya, justru hiduplah yang seharusnya mengharapkan sesuatu dari kita. Sehingga hal tersebut akan menimbulkan rasa tanggung jawab di pihak si manusia.

Logoterapi

Prinsip Logoterapi yang dikemukakan Frankl adalah bahwa perhatian utama manusia bukanlah untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi untuk menemukan makna dalam hidupnya. Buktinya manusia bahkan siap menderita dengan syarat bahwa setiap penderitaannya memiliki makna.

Ketika di kamp konsentrasi, Frankl selalu berusaha mencari makna atas hidupnya meski dalam kondisi tersulit sekali pun. Pernah ketika ia tengah bekerja di keadaan yang menyedihkan, ia pun membayangkan bahwa ia sedang berkomunikasi dengan istri tercintanya meskipun ia sendiri tak tahu keadaan istrinya saat itu.

Menurut Logoterapi, ada 3 cara yang bisa ditempuh manusia untuk menemukan makna hidupnya:

  • Melalui pekerjaan/perbuatan
  • Dengan mengalami sesuatu atau melalui seseorang
  • Melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari

Di tengah kesengsaraan hidup di kamp konsentrasi, bukan berarti manusia tidak bisa menemukan makna hidupnya. Buktinya di tengah keadaan kamp konsentrasi yang sangat menyedihkan, mereka masih bisa menemukan sedikit kebahagiaan dari rasa humor dan seni.

Konsep Frankl mengenai self-transcendence of human existence ini menyebutkan bahwa manusia selalu menuju dan dituntun kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya sendiri. Semakin kita melupakan diri sendiri–dengan mengabdi pada suatu perkara atau orang lain yang kita cintai–maka kita menjadi semakin manusiawi.

Kita tidak dapat menghindari penderitaan, tetapi kita dapat memilih cara mengatasinya, menemukan makna di dalamnya, dan melangkah maju dengan tujuan baru.

Victor Frankl
Abira Massi Veritas odit moras.

Leave a Reply

Your email address will not be published.