Abira Massi Veritas odit moras.

Filsafat Politik Niccolò Machiavelli

3 min read

Gerakan Renaisans pada awalnya terjadi di Italia, khususnya kota perdagangan seperti Florence dan Milan. Renaisans Italia tersebut melahirkan tokoh seperti Niccolò Machiavelli yang memiliki implikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan melalui gagasannya (Suhelmi, 2001, h. 114).

Niccolò Machiavelli dilahirkan di Florence pada tahun 1467 dan dibesarkan dalam keluarga bangsawan. Pada usia 12 tahun, Machiavelli belajar ilmu-ilmu kemanusiaan di bawah asuhan Paulo Ronsiglione. Buku-buku ilmu kemanusiaan tersebut ditulis dalam bahasa Latin, tidak terlalu sulit dipahami olehnya karena ia telah belajar bahasa Latin sejak usia 6 tahun (Suhelmi, 2001, h. 126). Machiavelli sendiri kemudian berkembang menjadi seorang politikus pada usia 25 tahun dengan ide-ide yang konkrit, praktis, dan disebut-sebut seorang politikus realisme. Machiavelli pernah menjabat dengan kedudukan tinggi dan terhormat dalam bidang diplomatik dan mengurus korespondensi di negaranya (Mujahid, 2011).

Pemikiran Politik Machiavelli

Machiavelli menyaksikan perjuangan Girolamo Savonarola, politikus moralis yang membela kaum miskin menghadapi penguasa tiran Italia. Namun perjuangan Savonarola gagal yang disebabkan karena tidak memiliki kekuatan politik dan kekuatan militer yang memadai. Savonarola kemudian ditangkap dan dieksekusi inkuisisi gereja atas perintah Paus Alexander VI karena dituduh bermaksud mendirikan negara teknokratik demokratik dan mengkritik kemewahan penguasa Medici di Italia saat itu. Peristiwa tersebut yang mempengaruhi Machiavelli dalam pemahamannya mengenai mereka yang bersenjata akan dapat menaklukan mereka yang tidak bersenjata.

Machiavelli menjadi pencetus pertama untuk ide membuat pertahanan dan keamanan negara modern. Gagasannya bermula ketika pengalaman sebagai seorang diplomat dan dalam masa tugasnya terjadi sebuah peristiwa Vitelli. Vitelli merupakan seorang pemimpin tentara bayaran yang disewa oleh Florence untuk merebut kembali Pisa. Namun, orang-orang Pisa memberikan bayaran lebih kepada Vitelli dan kemudian membuat tentara bayaran menghentikan serangan terhadap Pisa. Peristiwa tersebut memberi pelajaran berharga kepada Machiavelli bahwa negara harus memiliki tentara sendiri (Hakim, 2019, h. 44). Tentara bayaran dinilai tidak dapat dipercaya, tidak kokoh, tidak bersatu, tidak disiplin, dan mudah berkhianat karena uang (Machiavelli, 2018, h. 77). Machiavelli sadar bahwa manifestasi fisik kekuasaan politik adalah kekuatan militer. Pandangan ini menjadi dasar pemikiran realisme yang dikembangkan dalam teorinya mengenai kekuasaan, negara, dan perang.

Karier Machiavelli sebagai diplomat dan politikus berakhir ketika ia diberhentikan dari jabatannya oleh penguasa Lorenzo de’ Medici karena dianggap sebagai komplotan anti pemerintahan pada tahun 1513 (Noor, 1982, h. 67). Setelah diberhentikan, Machiavelli memulai hidupnya menjadi seorang pemikir dan hari-harinya dihabiskan untuk berefleksi dan menulis. Ia merefleksikan semua pemikiran semua pengalaman politiknya dalam karya intelektualnya yang monumental, di antaranya The Prince dan The Discourses. Karya Machiavelli tersebut membuat dirinya dikenal sebagai seorang ilmuwan politik, Machiavelli ingin menunjukkan bahwa dirinya loyal terhadap penguasa Medici dan bukan seorang pemberontak. Machiavelli berharap, dengan saran dan nasihat politiknya ia bisa direkrut kembali dalam jabatannya di kekuasaan Medici (Suhelmi, 2001, h. 131).

Machiavelli
Machiavelli

Pemikiran Machiavelli Tentang Kekuasaan

The Prince berusaha menyingkapkan dari sejarah dan peristiwa kontemporer, bagaimana negara-negara dimenangkan, diselenggarakan, dan ambruk (Russel, 2002, h. 663). Menurutnya, kekuasaan negara seharusnya dipisahkan dari agama, Tuhan, maupun moralitas. Segala kebajikan, agama, dan moralitas justru harus dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan, bukan sebaliknya. Machiavelli menolak pernyataan Thomas Aquinas tentang penguasa yang baik dalam karyanya The Government of Princes yang menyatakan bahwa seorang penguasa harus menghindari kejayaan dan kekayaan duniawi untuk memperoleh ganjaran surgawi kelak. Bagi Machiavelli justru sebaliknya, penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan dan kekuasaan karena merupakan nasib mujur yang dimiliki seorang penguasa (Suhelmi, 2001, h. 133).

Dalam The Prince, Machiavelli menyatakan bahwa seorang penguasa boleh melakukan tindakan kekejaman atau cara ‘binatang’ dan hendaknya tidak boleh terlalu sering. Menurutnya, penguasa harus bisa menjadi singa di keadaan tertentu, dan menjadi rubah di keadaan lainnya. Namun, bila keadaan tidak memungkinkan, dan harus memilih salah satu sifat tersebut, penguasa lebih baik meniru sifat rubah. Sejarah membuktikan penguasa yang semata mengandalkan kekuatan akan mudah runtuh oleh tipu daya dan kelicikan. Sebaliknya, penguasa yang pandai bertipu daya, peluang untuk menang masih terbuka lebar. Cara ini yang dipakai Paus Alexander VI ketika mengusir pasukan Prancis dari Italia (Benedanto, 1997, h. 33). Menurutnya, penguasa seharusnya menjadikan dirinya ditakuti, dan tidak perlu takut untuk tidak dicintai, namun tidak boleh dibenci oleh rakyatnya sendiri (Machiavelli, 2018, h. 106).

Dalam kaitannya dengan kekuasaan seorang penguasa, bila seorang penguasa berhasil merebut suatu wilayah maka ada cara untuk mempertahankan negara yang baru saja direbut itu. Pertama, membumihanguskan negara dan membunuh seluruh keluarga penguasa sebelumnya, sisa keluarga penguasa lama akan menimbulkan benih-benih ancaman terhadap penguasa baru kelak. Kedua, melakukan kolonisasi, mendirikan pemukiman baru, dan menempatkan infantri di wilayah koloni serta menjalin hubungan dengan negara terdekat. Dari kedua cara tersebut, cara pertama merupakan yang paling efektif menurut Machiavelli, meski bertentangan dengan moralitas yang ada (Suhelmi, 2001, h. 133).

Machiavelli dan Nilai Utilitarianisme Agama

Machiavelli memandang agama dari sudut pragmatisme dan kepentingan politik praktis. Agama memiliki makna jika memiliki kepentingan politik kekuasaan. Tidak penting agama tersebut salah atau benar, karena ia tidak tertarik dalam permasalahan kebenaran suatu agama atau asal muasal dari suatu agama. Menurutnya, agama berhasil mempersatukan bangsa, membina loyalitas, kepatuhan, dan ketundukan rakyat terhadap otoritas penguasa. Agama merupakan alat yang diperlukan untuk memelihara suatu negara yang beradab dan telah menciptakan kejayaan dari kerajaan Romawi (Machiavelli, 2003, h. 54).

Agama merupakan jaminan terkuat dan sumber kepatuhan rakyat. Tanpa agama, efisiensi dan keberhasilan politik negara akan hanya didasarkan atas kebajikan temporal tiap penguasa secara individual (Suhelmi, 2001, h. 140).

Pada kenyataannya, agama menjadi alat bantu penguasa, apabila penguasa dapat memanfaatkan agama dengan sebaik-baiknya maka ia akan mudah memperoleh hal-hal penting tersebut dari rakyatnya. Dengan demikian jelas terlihat bahwa Machiavelli menempatkan agama hanya sebagi salah satu faktor dalam masyarakat dan kekuatan yang perlu digunakan penguasa untuk memperkuat negara. Agama memiliki tempat yang istimewa di dalam sesuatu negara, bukan berdasarkan kebenarannya, melainkan karena nilai politis berharga yang dimilikinya (Rapar, 2001, h. 469).

Artikel ini diunggah hasil dari tugas mata kuliah Pemikiran Politik Barat milik penulis. Baca selengkapnya di sini.

Abira Massi Veritas odit moras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *