Abira Massi Veritas odit moras.

Resensi Buku: Filosofi Teras

1 min read

Dikotomi Kendali

Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal yang tidak di bawah kendali kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. Karenanya, jika kamu menanggap hal-hal yang bagaikan budak sebagai bebas, dan hal-hal yang merupakan milik orang lain sebagai milikmu sendiri…maka kamu akan meratap, dan selalu menyalahkan tuhan dan orang lain. 

Epictetus [Enchiridion]

Abis ngebaca “ulang” buku tentang Filsafat Stoikisme, kadang lupa sama isinya, jadi pengen nulis beberapa hal yang ga pengen gue lupain.

Sekarang masih ngebaca buku tentang stoik juga sih, judulnya Meditations karya Marcus Aurelius.

Filosofi Stoisisme

Stoikisme atau Stoisisme, juga disebut Stoa adalah nama sebuah aliran atau mazhab filsafat Yunani kuno yang didirikan di Kota Athena, Yunani. Oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM (wikipedia).

Zeno adalah pedagang kaya dari Siprus pada medio 300 tahun SM yang melintasi laut Mediterania untuk menjual berbagai pewarna tekstil ungu yang sangat mahal, yang biasanya digunakan sebagai pewarna jubah-jubah raja. Malang tidak dapat ditolak, kapalnya karam dan semua dagangannya karam serta Zeno harus terdampar di Athena. Disana ia mengujungi toko buku dan belajar filsafat dari Crates, filsuf Cynic, sampai ia mengajar sendiri filsafatnya di teras berpilar (Stoa) di Athena.

Tujuan Stoisisme

Tujuan utama filsafat ini adalah Apatheia. A notpathos suffering dan Eudaimonia atau “flourishing“. Yang ingin dicapai setelah mempelajari filosofi Stoisisme adalah:

  1. Mendapatkan hidup yang tentram (fokus terhadap hal yang di dalam kendali kita)
  2. Bebas dari emosi negatif (cemburu, curiga, khawatir berlebih, marah, dsb)
  3. Mengasah kebijakan (kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan menahan diri)

Filosofi Stoa juga dapat kita praktikan dalam kehidupan sehari hari, bahkan di masa kini.

Dikotomi Kendali

Dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, disebutkan hal-hal yang ada di bawah kendali dan di luar kendali kita pada Bab 4, Dikotomi Kendali.

Dikotomi Kendali terdiri dari:

  1. Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri.
  2. Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti cuaca, opini, dan tindakan orang lain.
  3. Hal-hal yang bisa sebagian kita kendalikan. Dengan memisahkan tujuan di dalam diri (internal goal) dari hasil eksternal (outcome-nya).

So, ini beberapa contoh dikotomi kendali yang bisa diterapkan kita pada kehidupan sehari hari.

Hal-hal yang di bawah kendaliInternal goal yang layak diperhatikanOutcome yang tidak layak diperhatikan
KarierBekerja sebaik-baiknya.
Menunjukan kompetisi kepada atasan.
Menjalin kerja sama yang baik dengan teman kerja.
Penilaian atasan.
Keputusan pengangkatan jabatan.
Gosip/politik kolega.
KesehatanOlahraga yang cukup.
Tidur yang cukup.
Nutrisi yang cukup.
Selalu sehat.
Kecelakaan.
Infeksi penyakit
KompetisiBerlatih dengan keras.
Nutrisi yang baik.
Menjaga kesehatan sebelum perlombaan.
Performa lawan.
Gangguan teknis, konsentrasi juri, dan sebagainya.
RelationshipPerhatian yang cukup.
Kasih sayang dari kita.
Kesetiaan diri sendiri.
Perasaan pasangan.
Kesetiaan Pasangan.
BisnisBekerja secara profesional.
Tidak menipu pelanggan.
Memberi layanan terbaik untuk pelanggan.
Ada atau tidaknya pelanggan yang membeli dari kita.
Kesetiaan dan kepuasan pelanggan.
Penerapan dikotomi kendali pada kehidupan sehari-hari.

Manfaat Pemisahan Situasi Internal Goal dan Outcome

  • Kita bisa memfokuskan energi pada hal yang di bawah kendali, meminimalisir stres untuk hal yang di luar kendali kita.
  • Saat hasil tidak sesuai ekspetasi, mental kita ga terlalu terpuruk. Karena fokus terhadap internal goal, kita tidak perlu meratapi kegagalan secara berlebihan sampai mengutuk diri sendiri.
  • Kerendahan hati. Mengakui outcome tidak di bawah kendali bukan berarti terlena saat kita menikmati keberhasilan dan berpikir semua adalah “upaya saya sendiri”, karena setiap keberhasilan dipengaruhi banyak faktor di luar kendali kita. Jadi, jangan sombong.
Abira Massi Veritas odit moras.

Leave a Reply

Your email address will not be published.